Tgk. Cut Abdullah: Bertekad Tak Akan Meninggalkan Al Quran

Terbit di Tabloid Gema Baiturrahman, 27 April 2012

Tangan kanan Cut Abdullah cermat meraba al quran Braile di hadapannya. Sementara tangan kirinya memegang mikrofon. Di depannya, 2 orang pelatih MTQ bersiap menyimak Al  Quran yang hendak dibaca Tgk. Cut.  Ia sejenak menarik nafas. Lalu, suara merdu lantunan ayat suci Al quran pun keluar dari bibirnya. Syahdu bergema dalam ruangan Mushalla Dinas Syariat Islam.

Di sanalah Tgk. Cut berlatih beberapa waktu belakangan ini. Setiap hari. Bersama peserta cabang tilawah lain, mereka bersiap menghadapi pergelaran MTQ di Ambon nanti. Saat berlatih Tgk. Cut selalu ditemani adik kandungnya, Tgk. Din. Di balik segala keterbatasannya itu,  ternyata Tgk. Cut adalah unggulan kafilah Aceh untuk cabang tilawah tuna netra.

more »

Category: reportase  One Comment

Lelaki Penggenggam Purnama

Ayahku ada di sana. Nun jauh di tengah laut. Bertarung melawan angin, bercanda dengan ombak. Menggigil diterkam dingin. Ayah pergi untuk menjemput rizki Tuhan. Menunaikan kewajibannya sebagai ayah yang sebenar-benarnya ayah.

Maka aku akan tetap di sini, menanti ayah. Setelah ia bertarung melawan rasa takutnya di tengah laut sana, aku ingin orang yang pertama kali dilihatnya adalah aku. Anaknya. Dan aku ingin meluruhkan segala letihnya dengan sebaris senyumku. Karenanya, aku tak peduli bila ayah pulang membawa ikan atau tidak. Lelaki paruh baya itu, telah memberikan segalanya.

more »

Category: cerpen  Leave a Comment

Menanti Delias

Beginilah caraku menikmati pagi. Aku menyeruput secangkir rosela hangat sambil menanti Delias. Kupu-kupu cantik yang selalu datang di taman bungaku. Tamannya tak begitu luas, akan tetapi beragam bunga ada di sana. Rasanya damai sekali. Melihat Delias menjenguk kuntum-kuntum bunga. Satu persatu. Mana kala bulir-blir embun masih bergelantungan di setiap ujung daunnya.

Delias memiliki sayap yang indah, kuning keemasan. Disisipi bercak-bercak hitam yang simetris. Delias adalah kupu-kupu cantik yang menyimpan pesona dalam kesederhanaan. Lihatlah, warna sayapnya memang tak merona. Akan tetapi, tanpa hadirnya, mungkin saja aku tak bisa menikmati indahnya beragam kuntum yang mekar.

more »

Wajah-Wajah Renta yang Menghibur Jiwa

Letih, keriput, penuh kepayahan. Itulah diskripsi fisik dari sosok lansia. Wajah-wajah renta yang selalu membuat dada ini sesak setiap kali melihatnya. Mereka menua karena sunatullah. Sebuah garis kehidupan yang memang mesti mereka lalui. Pun begitu juga kita nantinya. Sekiranya Allah memanjangkan nafas-nafas kita hingga menua.

Selalu ada keharuan. Karena wajah mereka bisa jadi cerminan diri kita nantinya. Apa jadinya bila suatu masa nanti kita seperti mereka, dan tak ada seorang pun yang peduli. Saat-saat penuh kepayahan itu, kita justru berjuang sendiri. Maka, setiap kali melihat wajah-wajah renta itu. Jiwa kita akan terusik, karena terbayang masa-masa yang membuat kita sangat khawatir.

more »

Belajar Kearifan dari Angka 11

Seperti angka 11, ia tidak muncul begitu saja. Ia membutuhkan bilangan lain sebelumnya, agar tepat dinisbatkan sebagai angka 11. Terlepas dari bagaimana pun terbentuknya angka 11 itu, penjumlahan, pengurangan atau sebagainya. Angka 11 tetap membutuhkan angka lainnya untuk membentuk identitasnya.

Karenanya,  bila kita ingin menyebut angka “11”, kita harus mengakui keberadaan angka 10, 9, 8 dan seterusnya. Namun, bila kita mengabaikan angka-angka tersebut, maka tak ada angka sebelas, yang ada hanya 2 buah angka serupa yang bersanding. Tak saling melengkapi, masih-masing teguh untuk mempertegas identitasnya.

more »

Sang Profesor

Sekiranya kita bisa memilih kepada siapa kita akan bertemu esok, tentulah menanti pagi seperti menanti lebaran. Mungkin itu pula mengapa Tuhan merahasiakan jodoh kita. Dan bila saja pilihan semacam itu diberikan kepadaku. Tanpa pikir panjang pula, tentulah aku tidak akan memilih bertemu Prof Johan. Tak akan mungkin.

Dari bagian akedemik akhirnya aku mengetahui. Bahwa Prof Johan bukanlah sembarang orang, ia adalah lulusan University of Pennyselviana, Amerika Serikat. Ia mendapat gelar Master Economic devlopment-nya atau M.Econ.Dev. Di kampus ini hanya dua orang profesor yang memiliki gelar prestius itu. Selain Prof Bahar, dekan kampusku dan tentu saja Sang Keynesian ini, Prof Johan.

more »

Ketaatan Totalitas Hudzaifah

Gagasan  Salman al Farisi untuk membuat parit  dalam perang Khandaq memang cukup cerdas. Itu adalah strategi pertahanan ala Persi. Akibatnya, tentara gabungan kaum musryikin Mekkah itu tetap tak berdaya. Mereka hanya mampu mengepung kaum muslimin dengan mendirikan tenda-tenda. Padahal jumlah mereka cukup besar, bila dibandingkan pasukan kaum muslimin yang terkurung.

Dalam detik-detik kegetiran itu, Rasulullah dan para sahabat masih berharap akan datangnya pertolongan Allah. Lalu, langit pun menjawabnya. Pada suatu malam, setelah 1 bulan lebih kaum muslim tertahan dalam kepungan itu. Allah menyelamatkan kaum muslimin dengan menurunkan hujan selebat-lebatnya. Angin kencang serta gertakkan halilintar menjadikan malam itu kian mencekam. Kemah-kemah kaum kafir Qurais pun  terbang tak tentu arah.

more »

Menghadirkan Keteduhan di Rumah Sendiri

Rumah kita meskipun konstruksinya sederhana, adalah tempat di mana kita memulai segalanya. Ada  potongan cerita yang patut untuk di kenang di sana. Di rumah kita itu. Apapun cerita yang pernah terukir di sana. Duka, kepiluan, kehangatan, atau perasaan bahagia semuanya itu tetap saja mampu menghadirkan rindu.

Seperti apapun pesona di luar sana, semestinya rumah kita tetaplah menjadi tempat yang paling nyaman. Begitu pula sebaliknya, kerunyaman seperti apapun yang kita alami. Pulang ke rumah adalah cara kita menghadirkan kembali ketentraman jiwa. Karena itulah, semestinya pula kita memang harus mengerti, bagaimana menghadirkan keteduhan di rumah sendiri.

more »

Aisyah dan Dugaan yang keliru

Tabloid Gema Baiturrahman, 13 Januari 2011

Penduduk Madinah gempar. Betapa tidak, di atas untanya Shafwan ibnul Mu’atthal, lelaki yang tegap dan tampan itu ada Aisyah RA, istrinya baginda Rasulullah. Terang saja beragam sangka menghampiri penduduk Madinah. Bagaimana mungkin istri Rasulullah yang mulia itu, bisa berada di atas untanya Shafwan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Penduduk Madinah pun terpecah. Kondisi ini dimanfaat Abdullah bin Ubay, seorang lelaki munafik untuk memperkeruh suasana. Akibatnya, dua suku terbesar Madinah, Suku Aus dan Khazraj saling duga. Suku Aus yakin benar bahwa tak mungkin istri Rasulullah itu melakukan penyelewengan. Mereka yakin bahwa Aisyah itu masih terjaga kesuciannya. Sementara suku Khazraj  yang telah termakan asut, membela Abdullah bin Ubay karena alasan bahwa ia berasal dari golongan mereka.

more »

Ruang Hatimu Selalu Lebih Hangat Dari yang Kuduga

 (sekapur sirih skripsiku)

 Mulanya mimpi ini sederhana saja. Hanya ingin mengekalkan senyum dua mata cinta, ayah dan ibu. Mengingat, telah begitu banyak butiran peluh yang  menguap dari tubuhmu. Belum lagi pedih dan getir yang kalian redam diam-diam. Semuanya tergadaikan, agar diri ini selalu dalam kebaikkan.

Terhadap Ayah…

Maafkan aku, bila kala kecil dulu kerap keliru menilai cintamu. Aku lupa, bahwa selain sulit merapal aksara, kau juga canggung mengekspresikan cinta. Saat kukabarkan cerita yang semestinya membuatmu bahagia, Kau lebih banyak diam. Senyummu hanya sekedarnya saja. Sungguh betapa kelirunya diri ini. Bukankah semestinya aku paham. Bahwa kalau itu kau sedang letih, bukan saatnya untuk bercanda.

more »